Kurang Tidur Selama WFH? Hati-Hati Risiko Penyakit Jantung Meningkat

Wednesday, October 7, 2020

Selama pemberlakuan Work-From-Home (WFH) atau bekerja dari rumah, semakin banyak orang-orang yang terpangkas waktu tidurnya. Hal ini karena kondisi WFH memungkinkan kita untuk bekerja secara fleksibel—sangat fleksibel karena tidak ada batasan jam kerja seperti di kantor. Jika tidak membatasi waktu kerja sendiri, kita bisa saja terus menghadap laptop selama 12 jam atau lebih.

 

Kekurangan tidur kadang terjadi karena dituntut situasi dan kondisi. Namun, ada juga orang yang tidak mempermasalahkan waktu tidur yang sedikit, bahkan membiasakan tubuh untuk tidur kurang dari 6 jam setiap hari. Hal ini dilakukan agar waktu untuk produktif bertambah sehingga pekerjaan jadi selesai lebih banyak.  

 

Namun kenyataannya, tubuh tetap dalam bahaya meskipun seseorang sudah terbiasa tidur 6 jam atau kurang dalam semalam. Tidur adalah waktu bagi otak dan jaringan-jaringan tubuh lainnya untuk memulihkan diri. Mengurangi waktu tidur sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh, karena dapat mengacaukan keseimbangan hormon bahkan membunuh sel-sel yang tidak dapat beregenerasi.

 

Salah satu akibat dari kekurangan tidur adalah meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular, penyakit yang disebabkan oleh terjadinya penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah seperti serangan jantung, nyeri dada, stroke, dan sebagainya.

 

Penelitian yang dimuat dalam Journal of Clinical Sleep Medicine menemukan bahwa orang-orang dengan pola tidur yang buruk lebih rentan terhadap penyakit kardiovaskular. Pola tidur yang buruk mengacu pada durasi tidur yang pendek—yaitu 6 jam semalam atau kurang—dan kualitas tidur yang buruk seperti kesulitan tidur nyenyak.

 

Tim Peneliti mengambil data dari 60,586 orang yang merupakan peserta pemeriksaan kesehatan di MJ Health Management Institution, Taiwan. 60,586 peserta tersebut adalah mereka yang melakukan pemeriksaan lebih dari dua kali dalam kurun waktu tahun 1996 sampai 2014, dan memenuhi persyaratan berikut:

・ Berusia 40 tahun ke atas (karena penyakit kardiovaskular umumnya muncul di usia paruh baya).

・ Tidak memiliki riwayat penyakit kardiovaskular.

・ Tidak menunjukkan perkembangan penyakit lain—yang mungkin berpengaruh dalam perkembangan penyakit kardiovaskular—pada pemeriksaan kedua atau setelahnya, seperti diabetes, tiroid, TBC, asma, penyakit paru, tukak saluran pencernaan, hepatitis dan sirosis hati, penyakit ginjal kronis, kanker, dsb.

 

Untuk mengumpulkan data terkait durasi tidur dan kualitas tidur para peserta, Tim Peneliti menanyakan: (1) berapa jam Anda tidur dalam semalam, dan (2) bagaimana Anda menilai situasi tidur Anda bulan lalu. Kedua pertanyaan ini digunakan untuk menilai berpengaruh atau tidaknya pola tidur para peserta dalam perkembangan penyakit kardiovaskular.

 

Ternyata, sebanyak 2,740 peserta (4.5%) melaporkan bahwa mereka didiagnosis menderita penyakit jantung koroner saat melakukan pemeriksaan kedua atau setelahnya. Mereka adalah orang-orang yang dalam semalam hanya tidur selama kurang dari 6 jam, bahkan ada yang hanya tidur selama 4 jam. Kualitas tidur mereka juga buruk, seperti tidak bisa tidur nyenyak bahkan ada yang sampai harus mengonsumsi obat tidur.

 

Semakin pendek durasi tidur dan semakin buruk kualitas tidur seseorang, semakin tinggi pula risiko terserang penyakit kardiovaskular.

 

Bagaimana kekurangan tidur meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular?

 

Kekurangan tidur mengacaukan keseimbangan hormon. Salah satunya adalah kadar hormon leptin (peredam nafsu makan) dan ghrelin (perangsang nafsu makan) dalam tubuh. Saat tubuh kekurangan tidur, keseimbangan leptin dan ghrelin menjadi kacau, mengakibatkan melonjaknya nafsu makan meskipun tubuh tidak lapar. Akibatnya, pola makan turut menjadi kacau, mempengaruhi perkembangan obesitas dan mengganggu kontrol gula dalam darah.

 

Hal ini dibuktikan oleh penelitian bersama yang dilakukan Universitas Stanford dan Universitas Wisconsin. Penelitian dilakukan dengan menganalisis data yang diberikan oleh 1,024 relawan. Pengambilan data dilakukan melalui:

・ Survei, salah satu pertanyaannya: “Berapa jam biasanya Anda tidur pada (a) malam di hari kerja, dan (b) malam akhir pekan atau di luar hari kerja?”

・ Polisomnografi, pemeriksaan untuk mendiagnosis gangguan tidur yang dilakukan dengan merekam gelombang otak, kadar oksigen dalam darah, denyut jantung, frekuensi pernafasan, serta pergerakan kaki dan mata.

・ Pengambilan sampel darah, untuk melihat apakah durasi tidur mempengaruhi kadar hormon leptin dan ghrelin.

Hasil penelitian memperlihatkan adanya pengurangan kadar leptin dan peningkatan kadar ghrelin pada relawan dengan durasi tidur yang pendek.

Tim Peneliti juga melihat adanya peningkatan angka Indeks Massa Tubuh pada relawan yang durasi tidurnya pendek. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya nafsu makan akibat ketidakseimbangan kadar kedua hormon tadi.

 

Apa durasi tidur yang pendek tidak berbahaya selama pola makan dijaga dengan baik?

 

Solusi untuk mencegah meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular bukanlah “menahan diri untuk tidak makan saat kelaparan di larut malam”, tapi memperbaiki ketidakseimbangan hormon pada tubuh.

 

Bukan hanya hormon leptin dan ghrelin. Beberapa penelitian dalam jurnal Diabetes Care dan American College of Cardiology juga menemukan bahwa kekurangan tidur memicu peradangan tingkat rendah dan merangsang sistem tubuh untuk memproduksi hormon stres. Hal ini dapat menyebabkan tekanan darah tinggi dan penghambatan aliran darah.

 

Ketidakseimbangan hormon terjadi karena tubuh terus terjaga meski sudah waktunya bagi otak dan bagian-bagian tubuh lain untuk memulihkan diri. Karena itu, solusi yang tepat tentu saja dengan tidur yang cukup setiap malam.

 

Jika laptop yang kita pakai untuk bekerja memasuki kondisi baterai melemah, tangan pasti langsung sigap memasang charger sebelum laptop mati total. Begitu juga dengan tubuh manusia, harus segera “diisi ulang” jika sudah mencapai batasnya.

 

Sesibuk apapun pekerjaan, kesehatan harus tetap menjadi prioritas. Oleh karena itu, pastikan Anda mendapat tidur yang cukup mulai malam ini, ya!

 

 

Referensi:
Lao, X. Q., Liu, X., Deng, H. B., Chan, T. C., Ho, K. F., Wang, F., Vermeulen, R., Tam, T., Wong,M., Tse, L. A., Chang, L. Y., & Yeoh, E. K. (2018). Sleep Quality, Sleep Duration, and the Risk of Coronary Heart Disease: A Prospective Cohort Study With 60,586 Adults. Journal of clinical sleep medicine: JCSM: official publication of the American Academy of Sleep Medicine, 14(1),109–117.
Taheri, S., Lin, L., Austin, D., Young, T., & Mignot, E. (2004). Short sleep duration is associated with reduced leptin, elevated ghrelin, and increased body mass index. PLoS medicine, 1(3), e62.
Subscribe for free resources
& news updates.
Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form