Hati-hati, Kecanduan Smartphone Sama Bahayanya dengan Kecanduan Berjudi

Thursday, March 11, 2021

Apakah Anda tahu berapa lama Anda menggunakan smartphone atau HP setiap harinya?

Di masa sekarang, "main HP" tidak hanya 1-2 jam saja. Semua kegiatan yang bisa kita lakukan di HP seperti bermain game, menonton video, menjelajahi sosial media, atau membaca artikel benar-benar membuat kita berpangku di depan layar berjam-jam seperti orang kecanduan.

Tidak sedikit orang yang menggunakan HP sampai 5 jam setiap harinya. Dalam 1 hari atau 24 jam, 7 jam digunakan untuk tidur dan 17 jam sisanya dilakukan untuk beraktivitas. Dalam 17 jam tersebut, 5 jam digunakan hanya untuk bermain HP—memakan 30% dari 1 hari kita!

Andesh Hansen dalam bukunya “Smartphone Brain” (スマホ脳) menjelaskan bahwa kecanduan “bermain HP”, terutama karena menggunakan sosial media, sebenarnya tidak berbeda dengan kecanduan berjudi atau bermain pachinko (permainan judi yang legal di Jepang).

Keduanya mirip karena sama-sama merangsang produksi dopamin, zat kimia yang diproduksi otak saat kita mengharapkan imbalan atau penghargaan.

Baik dalam menjelajahi media sosial maupun bermain judi, kita sama-sama “mengharapkan” atau “berekspektasi” pada suatu imbalan. “Mengharapkan” atau “ekspektasi” inilah yang menjadi “candu” bagi kita.

Kadar dopamin yang meningkat karena “mengharapkan” atau “berekspektasi” ini dibuktikan oleh percobaan dengan monyet. Percobaan tersebut seperti ini: seekor monyet diberikan jus setiap buzzer dibunyikan. Monyet tersebut menjadi paham bahwa saat bunyi buzzer terdengar, ia akan diberikan “imbalan” yaitu jus.

Menariknya, level dopamin pada sang monyet melonjak naik bukan saat ia menerima jus, tapi saat ia mendengar bunyi buzzer.

Ini karena saat mendengar bunyi buzzer, monyet tersebut berpikir bahwa “kemungkinan setelah ini aku akan mendapat jus”. Perasaan menantikan atau mengharapkan “kemungkinan” itu lah yang memicu lonjakan dopamin.

Pada peneliti mencoba mengkonfirmasi hal tersebut dengan percobaan berbeda: setiap buzzer dibunyikan, monyet akan diberikan jus, tapi terkadang juga tidak diberikan. Pemberian imbalan berupa jus tersebut dibuat menjadi acak atau random.

Ternyata, hal ini justru membuat level dopamin monyet tersebut meningkat lebih tinggi setiap mendengar bunyi buzzer. Ini karena monyet berpikir bahwa “kemungkinan akan mendapat jus” dan “kemungkinan tidak mendapat jus”.

Semakin random atau semakin kuat “kemungkinan”—bisa jadi dapat imbalan, bisa jadi tidak dapat—semakin melonjak pula level dopamin yang diproduksi tubuh.

Sama halnya dengan berjudi. Alasan kenapa orang-orang menjadi kecanduan berjudi adalah karena otak sangat terangsang dengan “kemungkinan”—meski pada akhirnya kita bisa saja tidak mendapat imbalan apa-apa.

Hal yang sama pun terjadi pada otak saat kita bermain HP atau menjelajahi media sosial. Kita “mungkin” akan menemukan informasi berguna atau cerita menarik jika menulusuri thread yang tersebar di Twitter.

Kita “mungkin” dapat menjadi viral jika mengunggah video ke Youtube. Kita “mungkin” dapat menerima likes dari orang yang kita sukai jika mengunggah foto ke Instagram.

Begitu banyak “kemungkinan” yang merangsang otak, membuat kita betah menatap layar sampai berjam-jam, dan jadi tidak bisa menahan diri untuk tidak mengecek HP setiap beberapa menit sekali.

Kecanduan adalah hal yang mengerikan, bukan?

Pengaruh Buruk Kecanduan HP

Kecanduan bermain HP pastinya memberikan pengaruh buruk bagi kesehatan. 3 dampak buruk yang utama adalah menurunkan daya konsentrasi, menumpuk stres, dan mengganggu kualitas tidur.

Orang yang kecanduan HP selalu mengecek HP mereka setiap beberapa menit sekali. Hal ini sangat berbahaya karena membuatnya tidak bisa fokus pada apa yang

sedang dikerjakan. Akibatnya, performa kerja dan produktivitas orang itu menjadi terganggu.

HP juga sangat menyumbang stres sehari-hari. Dalam bukunya, Andesh Hansen menjelaskan bahwa sudah menjadi sifat manusia untuk bereaksi terhadap sesuatu yang buruk. Artinya, jika kita menemukan hal buruk di internet atau sosial media, kita pasti menjadi ‘kepikiran’.

Berita buruk, ujaran kebencian, dan hal-hal meresahkan lain yang kita temukan pasti akan menjadi beban pikiran. Akibatnya, kita mendapat setumpuk stres baru—padahal stres akibat memikirkan hidup sendiri saja sudah menumpuk!

Kualitas tidur pun akan terganggu karena kita terus menatap layar, bahkan pada malam hari atau sebelum tidur. Cahaya yang dipancarkan HP—yang disebut ‘blue light’—merupakan cahaya artifisial yang dapat “menipu” tubuh kita.

Jika semalaman memandang HP, bisa-bisa tubuh salah mengira bahwa cahaya tersebut berarti “pagi hari”, sehingga mengacaukan kerja organ dan sel tubuh yang seharusnya berlangsung pada malam hari.

Akibatnya, kualitas tidur kita terganggu dan tubuh tidak bisa memulihkan diri dengan maksimal. Jika tidur terganggu, efeknya akan mempengaruhi kesehatan kita secara menyeluruh!

Lantas, bagaimana solusi untuk mengatasinya?

Hansen mencetuskan solusi dari kecanduan HP, bukan dengan membatasi pemakaian HP tapi dengan menambah olahraga ke dalam rutinitas sehari-hari. Lebih tepatnya: berolahraga 3 hari dalam seminggu, dan dalam 1 harinya berolahraga selama 45 menit.

Dengan berolahraga, pengaruh buruk yang diakibatkan oleh kecanduan bermain HP dapat teratasi. Olahraga dapat mengangkat stres SEKALIGUS meningkatkan kemampuan konsentrasi. Bahkan, orang yang susah fokus seperti pengidap ADHD pun juga dianjurkan untuk berolahraga agar kemampuan konsentrasi mereka meningkat.

Sebagai tambahan, sangat dianjurkan untuk mengurangi dampak ‘blue light’ yang dipancarkan HP dengan mengubah pengaturan HP.

Baik pada siang maupun malam hari, gunakanlah “night mode” atau mode gelap yang dapat mengubah tampilan gadget Anda (HP, tablet, komputer, dan lain-lain) dan aturlah tingkat kecerahan atau brightness layar menjadi rendah. Ini karena karena tampilan berwarna terang seperti putih dapat membuat mata cepat lelah.

Bahkan, jika benar-benar ingin meminimalisasi pengaruh buruk dari HP, Hansen menyarankan untuk mengubah tampilan warna HP menjadi grayscale atau hitam-putih saja.

Selain itu, penting untuk tahu berapa lama Anda bermain HP setiap harinya, misalnya dengan mengecek screen time pada iPhone. Jika sudah 3 jam atau lebih, camkan bahwa kebiasaan Anda bermain HP sudah parah! Semua dimulai dari niat, begitu juga jika ingin lepas dari kecanduan bermain HP.

Sumber:
Andesh Hansen. 2020. スマホ脳 (Smartphone Brain). Japan: Shinchosha Publishing Co.
Subscribe for free resources
& news updates.
Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form