Hanya Dengan Pijat 15 Menit, Kadar Hormon Stres Bisa Turun Sampai 24%

Thursday, January 21, 2021

Bukan Sekedar Memulihkan Otot

Manfaat pijat tidak terbatas pada pemulihan otot saja. Pijat juga memiliki efek relaksasi, mengurangi stres, bahkan meningkatkan sistem imunitas tubuh. Ini karena saat tubuh kita dipijat, aliran darah menjadi lancar dan sistem saraf otonom terangsang.

Terangsangnya sistem saraf otonom inilah yang mempengaruhi produksi hormon dan zat-zat kimia dalam tubuh.

Pijat memicu produksi zat-zat kimia tubuh yang menimbulkan perasaan positif. Zat-zat kimia ini juga dikenal sebagai “hormon bahagia” karena dapat meningkatkan suasana hati sekaligus mengurangi perasaan negatif seperti kecemasan (anxiety).

Zat-zat kimia tersebut beserta efek yang dimiliki adalah:  

1. Endorfin: meredakan rasa sakit, menenangkan.

2. Serotonin: meningkatkan mood, memunculkan perasaan nyaman dan bahagia.

3. Dopamin: memunculkan perasaan bahagia, meningkatkan fokus perhatian.

Selain itu, stres juga benar-benar terangkat saat kita dipijat. Ini karena pijat mengurangi kadar hormon penyebab stres, yaitu kortisol.

Kortisol bukan hanya menyebabkan stres saja, lho. The International Journal of Neuroscience menjelaskan, saat kadar kortisol tinggi, ia akan membunuh sel-sel imun terutama sel NK (natural killer) yang memiliki kemampuan membunuh sel-sel ‘jahat’ di dalam tubuh seperti sel kanker dan virus.  

Produksi serotonin berbanding terbalik dengan produksi kortisol; saat kita stres, depresi, atau terus merasakan perasaan negatif, kadar serotonin di dalam tubuh menjadi rendah dan kortisol menjadi tinggi.

Saat kadar kortisol dalam tubuh tinggi, sistem imunitas kita pun menurun. Ini lah mengapa suasana hati sangat berpengaruh pada sistem imun atau seberapa mudah kita terserang suatu penyakit.  

Selain mengangkat stres dan memperkuat daya tahan tubuh, pijat juga memperlancar aliran darah dan memulihkan otot dari ketegangan, sehingga sangat baik untuk relaksasi.

Manfaatnya luar biasa, bukan?

Tapi, apakah semua ini benar-benar terbukti secara ilmiah?

Ya! Penelitian yang membahas tentang pengaruh pijat terhadap sistem imunitas atau kadar kortisol dan serotonin tidak sedikit jumlahnya.

Salah satunya adalah penelitian yang dimuat di Journal of Psychosomatic Research, tentang terapi pijat pada pasien kanker payudara.

Penelitian tersebut membuktikan bahwa terapi pijat pada pasien kanker payudara (yang mengalami stres mental seperti depresi dan kecemasan) memicu peningkatan kadar serotonin dan dopamin, mengurangi kadar kortisol, serta meningkatkan kadar sel NK.

Hal tersebut dibuktikan dengan menganalisis 34 perempuan yang menderita kanker payudara stadium 1 atau 2. Mereka dibagi menjadi dua grup; grup terapi pijat—dipijat selama 30 menit untuk 3 kali dalam seminggu, terapi berlangsung selama 5 minggu—dan grup pembanding yang tidak ikut terapi apapun.

Hasil yang didapatkan ada yang langsung dan setelah analisis. Setelah sesi pemijatan, para perempuan tersebut merasakan perbedaan seperti berkurangnya kecemasan, mood yang depresif, dan amarah.

Perubahan kadar hormon dalam tubuh diketahui dengan melakukan analisis pada sampel urin. Analisis tersebut menunjukkan, sesi terapi pijat meningkatkan dopamin sebanyak 26%, serotonin 38%, serta meningkatnya aktivitas sel NK.

Sedangkan penelitian yang dimuat di International Journal of Neuroscience menemukan bahwa menggunakan kursi pijat selama 15 menit saja dapat menurunkan tingkat stres, kecemasan, dan depresi seseorang. Kadar kortisol yang dianalisis dari sampel urin pun menurun sampai 24%.

Sebagai tambahan, para peserta penelitian tersebut juga diminta mengerjakan soal matematika dan diperiksa menggunakan Electroencephalography (EEG, alat untuk melihat rekaman aktivitas listrik di otak).

Hasil EEG tersebut menunjukkan, mereka yang menggunakan kursi pijat mengalami peningkatan perhatian (alertness), serta menjadi lebih akurat dan cepat dalam mengerjakan soal matematika.

Jadi, pijat bukan hanya sekedar memulihkan ketegangan otot; pijat membuat kita tidak mudah terserang penyakit karena meningkatkan aktivitas sel imun, membuat kita lebih sehat secara mental karena memicu produksi “hormon bahagia”, dan meningkatkan fokus atau perhatian.

Hati-Hati Salah Pijat, Bisa Fatal Akibatnya

Pijat adalah metode relaksasi yang untuk meningkatkan fungsi tubuh secara alami dan aman, kaya akan berbagai manfaat.

Tapi, jika dilakukan secara asal, pijat justru bisa berbahaya bahkan berdampak fatal, lho.

Sebagai contoh, Elizabeth Hughes terserang stroke setelah sesi pijat facial di perawatan spa. Hughes mengaku merasakan sakit saat lehernya dipijat, dan seminggu setelah perawatan spa tersebut, ia dilarikan ke rumah sakit karena stroke.

Dokter mengatakan, penyebab dari stroke Hughes adalah pecahnya pembuluh arteri karotid di leher, kemungkinan terjadi saat sesi spa tersebut. Pembuluh arteri karotid adalah pembuluh darah utama yang mengirimkan darah ke otak, terletak di kedua sisi leher.

Tekanan yang diberikan dan titik-titik pijat memang harus diperhatikan dalam pijat-memijat. Menekan titik yang rawan—misalnya area dengan banyak ujung saraf atau pembuluh darah besar—dengan terlalu keras dapat menyebabkan nyeri, atau yang lebih fatal, pecahnya pembuluh darah.

Beberapa area atau titik rawan tersebut antara lain:

1. Leher dan sisi leher

2. Ketiak

3. Bagian dalam dan luar siku

4. Perut, rusuk bagian bawah

5. Selangkangan

6. Bagian belakang lutut

Pijat juga tidak boleh dilakukan asal pada mereka yang mempunyai penyakit atau nyeri kronis seperti Trombosis Vena Dalam (penggumpalan darah pada pembuluh vena), osteoporosis, atau artritis.

Jika tidak dilakukan oleh spesialis atau ahlinya, memijat seseorang yang memiliki kondisi-kondisi tersebut bisa berakibat fatal. Contohnya adalah kasus pria 23 tahun dari Delhi yang meninggal akibat salah pijat.

Sebelumnya, pria tersebut memiliki cedera di pergelangan kaki kiri setelah bermain bulu tangkis. Cedera tersebut menyebabkan adanya penggumpalan darah pada pembuluh vena, membuat pergelangan kaki dan betisnya bengkak.

Suatu hari pria tersebut merasakan sakit pada betis kirinya, dan ibunya memijat bagian yang sakit tersebut dengan harapan sakitnya bisa pulih. Namun, hal tersebut justru memperparah penggumpalan dan mengganggu aliran darah. Sang pria pun tak tertolong.

Karena itu, bagi yang memiliki penyakit atau nyeri kronis tertentu, sebaiknya konsultasikan dulu dengan spesialis pijat, yang lebih memahami teknik pijat dan tekanan yang dibutuhkan.

Sumber:
Field, T., Hernandez-Reif, M., Diego, M., Schanberg, S., & Kuhn, C. (2005). Cortisol decreases and serotonin and dopamine increase following massage therapy. The International journal of neuroscience, 115(10), 1397–1413.
Field, T., Ironson, G., Scafidi, F., Nawrocki, T., Goncalves, A., Burman, I., Pickens, J., Fox, N., Schanberg, S., & Kuhn, C. (1996). Massage therapy reduces anxiety and enhances EEG pattern of alertness and math computations. The International journal of neuroscience, 86(3-4), 197–205.
Hernandez-Reif, M., Ironson, G., Field, T., Hurley, J., Katz, G., Diego, M., Weiss, S., Fletcher, M. A., Schanberg, S., Kuhn, C., & Burman, I. (2004). Breast cancer patients have improved immune and neuroendocrine functions following massage therapy. Journal of psychosomatic research, 57(1), 45–52.
Jill Foster, The Daily Mail, How a Massage Can Cause A Stroke
Physio,  Increased Endorphines, Serotonin, Dopamine
Press Trust of India, BusinessStandard, For 23-year-old Delhi man, a massage proves to be fatal
Subscribe for free resources
& news updates.
Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form