Bahaya Asap Kembang Api, Sebabkan Sesak Nafas Sampai Radang Paru-Paru

Thursday, January 7, 2021

Penghujung akhir tahun 2020 sudah di depan mata.

Sama seperti di negara luar, sudah menjadi tradisi bagi orang Indonesia untuk menyambut tahun baru dengan berbagai macam perayaan.

Misalnya dengan menikmati karnaval, arak-arakan, konser musik, bakar-bakar makanan seperti sosis, daging, dan jagung, serta yang paling populer yaitu peluncuran kembang api dan petasan pada detik-detik pergantian tahun.

Namun, perayaan tahun baru 2021 ini akan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Baik pemerintah maupun aparat keamanan di berbagai daerah di Indonesia seperti Jakarta, Tangerang, Bandung, Bali, Malang, dan Riau, telah mengeluarkan larangan melakukan perayaan tahun baru.

Hal ini dilakukan karena perayaan dalam bentuk apapun berpotensi menimbulkan kerumunan.

Perlu diingat, pandemi COVID-19 yang hampir berlangsung selama setahun ini belum berakhir. Jangan sampai rantai penyebaran COVID-19 semakin meluas karena kita memaksa merayakan tahun baru.

Mungkin perayaan tahun baru terasa kurang tanpa kemeriahan kembang api dan petasan. Tapi, absennya kembang api pada perayaan tahun baru ini dapat memberikan pengaruh baik, lho.

Karena jika dilepaskan dalam jumlah banyak, kembang api memberikan dampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan pernafasan.

Bahaya Senyawa Beracun Dalam Kembang Api

Kembang api yang selalu hadir memeriahkan acara-acara besar seperti penyambutan tahun baru mengandung berbagai macam bahan kimia.

Menurut European Respiratory Society, semua kembang api mengandung senyawa karbon dan sulfur—diperlukan untuk pembakaran—dan sejumlah senyawa lain untuk membentuk kombinasi warna serta sebagai pengoksidasi.

Setelah dibakar, kembang api dan petasan akan melepaskan senyawa pencemar udara atau polutan dalam jumlah besar. Senyawa tersebut antara lain sulfur dioksida (SO2), karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO), beberapa partikel polusi (particulate matter; PM), dan senyawa lainnya.

Menurut Federal Environment Agency di Jerman, polutan yang dilepaskan kembang api ini tak terlihat terlihat oleh mata; senyawa beracun yang sangat kecil.

Menghirup udara yang terkontaminasi asap kembang api dapat menyebabkan gangguan pernafasan seperti memicu gangguan asma, sesak napas, nyeri dada, memperparah radang paru-paru, bahkan menyebabkan chemical pneumonia.

Chemical pneumonia adalah radang paru-paru yang terjadi karena paparan racun, bukan karena serangan virus atau bakteri. Radang paru-paru ini biasanya menyerang mereka yang menghisap rokok elektronik (vape).

Laporan University Hospital Zurich menjelaskan, karena bubuk kembang api berukuran nanopowder, PM yang dihasilkan kembang api berupa nanopartikel yang lebih kecil lagi dari partikel PM biasanya.

Akibatnya, saat kita menghirup udara yang terkontaminasi asap kembang api, senyawa beracun dalam ukuran nanopartikel dapat masuk sampai ke alveolus, area terdalam paru-paru.

Partikel beracun yang dilepaskan kembang api dapat mengotori udara selama 1 hari atau berlangsung sampai berminggu-minggu, tergantung pada beberapa faktor; berapa banyak kembang api atau petasan yang dilepaskan, kondisi cuaca, dan tata ruang daerah.

Angin kencang dan hujan dapat membantu menghalau partikel-partikel tersebut, sebagaimana dilaporkan oleh Federal Environment Agency Jerman. Polusi udara setelah Perayaan Tahun Baru di Jerman tahun 2009 dan 2013  berbeda intensitasnya berkat kondisi angin.

Polusi akibat kembang api juga dapat berlangsung lama pada kota-kota yang dipenuhi gedung-gedung tinggi. Ini karena tata ruang kota menghambat pertukaran udara di kota dengan pinggiran kota. Contohnya kota Stuttgart di bagian selatan Jerman, yang juga dikenal memiliki polusi udara yang buruk.

Pahami Risiko Asap Kembang Api

Asap yang dilepaskan oleh kembang api berbahaya bagi pernafasan.

Gangguan ini bukan hanya berdampak pada mereka yang sudah mengidap gangguan seperti asma dan radang paru-paru.

Orang yang sehat atau tidak memiliki riwayat gangguan pernafasan pun pun dapat mengalami sesak nafas, nyeri dada, batuk-batuk, bahkan chemical pneumonia jika polusinya begitu parah.

Perlu diingat juga bahwa anak-anak lebih rentan terhadap polusi udara akibat kembang api. Anak-anak memiliki daya tahan terhadap PM dan polutan yang lebih lemah dibanding orang dewasa. Mereka juga menghirup lebih banyak udara, sehingga sangat berbahaya bagi anak-anak untuk terekspos pada asap kembang api.

Jika memang ingin menikmati pertunjukkan kembang api, pastikan Anda berada di jarak yang cukup jauh agar aman dari partikel-partikel beracunnya. Bagi Anda yang memiliki gangguan pernafasan seperti asma, jangan lupa untuk selalu membawa inhaler dan mengenakan masker untuk berjaga-jaga.

Bagaimana? Peniadaan pertunjukan kembang api di perayaan tahun baru kali ini bukan hal yang buruk, bukan?

Selain untuk mencegah terbentuknya kerumunan dan menghindari penyebaran COVID-19, pelarangan perayaan kembang api juga mencegah polusi udara di kota-kota di Indonesia menjadi semakin parah, dan mencegah risiko gangguan pernafasan pada mereka yang menyaksikan langsung.

Yuk kita rayakan pergantian tahun dengan aktivitas yang seru tapi tetap aman bagi kesehatan!

Sumber:
Deutsche Welle (DW), New Year's Eve: Are fireworks harming the environment?
Gouder, C., & Montefort, S. (2014). Potential impact of fireworks on respiratory health. Lung India : official organ of Indian Chest Society, 31(4), 375–379.
Scholkmann, F. (2018). Chemical pneumonia due to air pollution after New Year’s fireworks in 2016 in Stuttgart, Germany: A case report.
Scroll.in, What that Diwali smog did to your lungs, heart and body.
Subscribe for free resources
& news updates.
Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form