Bahaya di Balik Alarm dan Tombol Snooze

Thursday, December 17, 2020

Sebuah bunyi yang mengusik tidur Anda terdengar—suara alarm yang menandakan sudah waktunya bangun.

Anda buru-buru mengambil ponsel, sekilas mengecek jam. Sekarang masih cukup pagi, masih ada waktu untuk tidur sedikit lagi.

Anda pun menekan tombol snooze dan kembali tidur.

5 menit berlalu begitu cepat dan alarm kembali berbunyi. Anda lagi-lagi dibangunkan secara paksa. Tapi ini masih terlalu pagi, masih bisa tidur sedikit lagi.

Maka Anda mengulang hal yang sama: tekan snooze, tidur, bangun, snooze lagi, tidur lagi.

Setelah berkali-kali tidur-bangun, Anda akhirnya memaksakan diri untuk melek.

Bukannya merasa segar, Anda merasa sama lelahnya seperti sebelum tidur. Hari Anda dimulai dengan perasaan uring-uringan dan kepala yang terasa sangat berat.

.

.

.

.

Pernahkah Anda mengalami hal serupa?

Kondisi bangun tidur dengan perasaan lelah dan sakit kepala ini disebut dengan sleep inertia.

Kondisi ini adalah sebuah transisi antara tidur dan bangun, di mana kewaspadaan Anda masih rendah dan belum bisa fokus—kalau kata orang Indonesia, “nyawa belum kumpul”.

Rasa lelah dan pusing terjadi karena otak dan tubuh belum sepenuhnya bekerja. Lamanya sleep inertia berlangsung beragam, ada yang hanya sekitar 5, 30 menit, bahkan sampai berjam-jam lamanya.

Mungkin sleep inertia dianggap tidak berbahaya karena “hanya sekedar pusing”—hanya suatu kondisi yang nanti akan pulih sendiri.

Tapi, hati-hati, pemikiran tersebut bisa membuat Anda tak sadar akan bahaya yang menyergap diam-diam.

Sleep inertia sendiri terjadi karena kita melakukan hal yang tidak seharusnya: bangun sebelum waktunya. Sakit kepala dan lelah itu muncul karena menurut tubuh dan otak, kita seharusnya masih dalam keadaan tidur.

Memaksa diri untuk bangun dengan menyetel alarm sebenarnya sangat tidak dianjurkan. Bukan hanya karena sleep inertia, tapi karena tidak baik untuk jantung.

Salah satu penelitian dalam jurnal Industrial Health mengatakan, bangun kejut akibat suara alarm dapat membuat sistem syaraf mengaktifkan respon fight-or-flight—reaksi stres karena tubuh merasa terancam—secara tiba-tiba, menyebabkan melonjaknya tekanan darah dan kecepatan detak jantung.

Jika terpaksa harus menggunakan alarm, Anda harus segera bangun setelah alarm pertama berbunyi dan memulai aktivitas setelahnya. Sleep inertia tidak akan berlangsung lama jika kita melakukan hal tersebut.

Namun, jika Anda terbiasa menekan opsi snooze untuk menunda alarm—demi mendapatkan 5 sampai 10 menit waktu tidur tambahan—kebiasaan tersebut harus Anda hentikan segera.

Kebiasaan buruk ini sangat menyiksa tubuh dan otak, karena kita berkali-kali tidur-bangun-tidur-bangun.

Penyebab Terjadinya Sleep Inertia

Sleep Foundation menjelaskan bahwa tidur manusia memiliki 4 sampai 5 tahapan; setiap tahapan berlangsung selama 70 sampai 120 menit.

3 tahapan pertama disebut sebagai “non-REM sleep” (non-rapid eye movement) dan 2 tahapan terakhir disebut sebagai “REM sleep” (rapid eye movement).

Pada fase awal tidur, yaitu “non-REM sleep”, tubuh masih melakukan penyesuaian menuju tidur, seperti memperlambat pernafasan dan denyut jantung.

Kita juga masih mudah terbangun oleh hal-hal kecil selama fase tersebut, karena kita berada di antara kondisi sadar dan tidak sadar.

Fase berikutnya, “REM sleep”, adalah fase di mana tidur kita sudah cukup dalam. Di fase ini kita bukan hanya bermimpi, tapi sel-sel dan organ-organ tubuh kita melakukan proses pemulihan.

1 jam sampai 2 jam sebelum “REM sleep” berakhir, tubuh akan mempersiapkan kita untuk bangun secara alami.

Tubuh akan mengirim sinyal-sinyal yang akan membuat kita bangun perlahan-lahan, seperti meningkatkan suhu tubuh dan meningkatkan kadar hormon kortisol yang dibutuhkan untuk beraktivitas.

Saat pemulihan sel-sel tubuh dan persiapan menuju "bangun" selesai, fase tidur akan berakhir dan kita akan bangun secara alami.

Inilah mengapa memaksa diri untuk bangun dengan menyetel alarm berdampak buruk pada kesehatan kita. Saat kita bangun kejut karena mendengar suara alarm, tahap “REM sleep” kita terganggu; proses pemulihan tubuh kita terputus tiba-tiba.

Cara bangun tersebut juga mengacaukan kerja otak dan organ-organ tubuh karena mereka belum mempersiapkan tubuh kita untuk bangun.

Kekacauan itulah yang menyebabkan sleep inertia: sakit kepala, kewaspadaan rendah, tidak bisa fokus, dan rasa lelah luar biasa.

Yang lebih parah adalah saat kita terbangun karena suara alarm dalam keadaan sangat mengantuk—yang berarti kita kekurangan tidur—kita akan menekan tombol snooze.

Di sinilah kesalahan fatalnya, karena saat kita kembali tidur, otak dan seluruh tubuh kita mengartikannya dengan “kita akan memasuki tahapan tidur baru”—tahapan tidur yang berlangsung 70 sampai 120 menit.

Tentu saja otak akan terkejut bukan main begitu mendengar suara bising alarm 5 atau 10 menit kemudian.

Bahaya Sleep Inertia

Jika tidur kita tidak cukup, sleep inertia dapat berlangsung selama berjam-jam.

Salah satu penelitian yang dimuat di jurnal PLOS One mengatakan, sleep inertia menyebabkan gangguan kognitif pada otak, seperti kurang berhati-hati atau waspada, proses berpikir yang lebih lambat, kesulitan mengingat, kurang tepat dalam merespon, dan sebagainya.

Kebiasaan sepele seperti menggunakan tombol snooze pada alarm dapat berimbas pada buruknya performa kerja selama paruh pertama hari kita. Kita sangat mungkin untuk melupakan hal penting, tidak fokus selama meeting, salah mengambil keputusan, kesulitan mencari ide, dan sebagainya.

Bukan hanya itu, kita juga akan ditemani oleh perasaan lelah dan mood yang buruk. Benar-benar sebuah paket komplit, bukan?

Sleep inertia tidak boleh diremehkan. Risiko bahaya yang ditimbulkannya sangat tinggi, bisa saja menyebabkan kecelakaan saat berkendara atau hal tak diinginkan lainnya.

Bahaya sleep inertia bukanlah hal sepele, terutama bagi Anda yang bekerja dengan memegang tanggung jawab besar dan selalu harus mengambil keputusan penting seperti bekerja di bidang kesehatan, transportasi, hukum, dan lain-lain.

Karena itu, mulai hari ini, usahakan untuk bangun begitu mendengar bunyi alarm pertama kali. Jangan tidur untuk kedua kalinya, apalagi berkali-kali setelahnya.

Akan lebih baik lagi jika Anda menyesuaikan jam tidur agar cukup 8 jam, sehingga tanpa alarm pun Anda dapat bangun dengan sendirinya.

Yuk, mulai kebiasaan baru untuk hidup yang lebih sehat!

 

Sumber:
Byrdie, Sorry Everyone but It's Scientifically Pointless to Press Snooze.
Division of Sleep Medicine Harvard Medical School, Sleep, Learning, and Memory.
Kaida, K., Ogawa, K., Hayashi, M., Hori, T., (2004). Self-Awakening Prevents Acute Rise in Blood Pressure and Heart Rate at the Time of Awakening in Elderly People. Industrial Health, 43, 179–185.
Santhi, N., Groeger, J. A., Archer, S. N., Gimenez, M., Schlangen, L. J., & Dijk, D. J. (2013). Morning sleep inertia in alertness and performance: effect of cognitive domain and white light conditions. PloSone8(11), e79688.
Sleep Foundation, What Happens When You Sleep.
Subscribe for free resources
& news updates.
Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form